Januari 6, 2008

SBY VS MUHAMMAD

Posted in Politik pada 2:24 am oleh airhoejan

Tinggal dalam hitungan hari lagi kita akan menyongsong tahun baru 1429 H. Hari ini, merupkan hari-hari dimana kita akan meninggalkan tahun yang sedang kita jalani saat ini. Manusia yang terbaik adalah manusia yang pada tiap pergantian hari, pergantian bulan tahun selalu saja menghitung hitung apa yang telah diperbuatnya untuk mempersiapkan kematiannya, begitu sabda Rasullullah SAW.

 

Pada hadist yang lain kita akan menemukan bahwa Rasullullah SAW berpesan bahwa Manusia yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah manusia yang beruntung. Manusia yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah manusia yang merugi, dan manusia yang hari ini lebih jelek dari hari kemarin adalah manusia yang celaka. Sungguh tinggi konsep Islam dalam memandang bagaimana manusia seharusnya memaknai kehidupannya.

 

Setahun kita telah melakukan banyak hal. Tinggal bagaimana kita menyikapi hal-hal yang telah kita lakukan itu. Bagaimana hasilnya tentunya telah menjadi takdir dalam kehidupan dan sejarah diri kita. Setelah kita berhitung diri, tentunya kita akan bersiap-siap untuk menyongsong hari baru, tentunya dengan segala pertimbangan hasil segala evaluasi atas apa yang telah kita lakukan pada 1428 H ini. Yang terbaik, adalah bagaimana kita menyiapkan diri kita untuk dalam menyongsong tahun yang sebentar lagi kita akan lihat rona merah fajar di tahun baru tersebut.

 

Kita bicara mengenai Indonesia dimasa sekarang. Sudah terlalu banyak buku, tulisan, buah pemikiran, dikusi ataupun seminar yang membahas permasalahan Indonesia. Dari berbagai sudut pandang. Dari berbagai disiplin ilmu. Beberapa pakar di bidangnya telah membahas dan mengupas permasalahan yang dihadapi Indonesia. Tapi sayang Indonesia tetap saja begini, bahkan mungkin lebih parah. Dan sangat teramat disayangkan Indonesia dan rakyatnya tidak ada yang berani untuk jujur mengadakan evaluasi akhir tahunnya. Padahal baru saja tahun baru masehi berlalu. Tidak ada kesan yang mendalam dari perubahan tahun tersebut. Mungkin hanya pesta kembang api di Ancol, atau pura-pura bermuhasabah, menghitung diri di masjid Cikeas tanpa menetapkan target-target kerja di tahun 2008 mendatang. Memang bukan jaminan jika menetapkan target, maka kehidupan berbangsa akan berubah menjadi lebih baik. Tapi paling tidak ada anatsir kita sebagai rakyat melihat niat baik pemerintah untuk membenahi negara ini.

 

Oke, mari kita tinggalkan sejenak kondisi kronis Indonesia, kita melayangkan pandangan kita pada sejarah manusia agung Muhammad bin Abdullah, Rasul Ummat Islam. Beliau yang bukan jebolan Havard University ternyata mampu memimpin revolusi. Muhammad yang lahir di padang gersang, hidup bergaul dengan para domba-domba nya saat dia masih anak-anak. Besar tanpa bimbingan dan pengaruh Ibu dan Ayahnya. Tidak bisa membaca dan menulis, jauh dari peradaban tinggi manusia di zamannya, juga tanpa gelar Doktor, mampu menggerakkan masa untuk membuat perubahan dan melawan para raja-raja dzolim. Wajar saja, karena dia adalah nabi yang dipilih oleh Tuhan-Nya. Di berikan pendidikan langsung lewat ajudan Tuhan yakni Jibril.

 

Jangan bandingkan Muhammad dengan DR. Hadji.SBY. Bung !!

Anda benar, sungguh sangat jauh berbeda antara keduanya. Bukan masalah kenabian yang saya maksud berbeda disini. Tapi apa yang ada di hati mereka. Muhammad total hatinya untuk rakyat, sedangkan SBY bersekutu hatinya dengan para penguasa. Bahkan cenderung berkhianat terhadap amanat rakyat. Tentunya saya bicara begini bukan tidak berdasar loh….

 

Lihatlah ….

Berapa lama lagi rakyat Sidoardjo terkatung-katung atas masalah yang menimpa mereka? Adakah kepastian bagi rakyat untuk bisa memiliki kembali daya beli yang telah hilang? Adakah kepastian bagi kaum yang lemah ekonominya untuk tetap bisa menggunakan minyak tanah? Apakah ada kepastian para pedagang bisa membuka usaha mereka tanpa di kejar-kejar trantib? Apakah ada kepastian para buruh untuk bisa mendapatkan upahnya yang hampir 8 bulan tidak di bayar karena sang majikan lari ke luar negeri? Apakah ada kepastian perlindungan para TKI di luar negeri? Kemana dan dimana ‘dia’ berada saat pertanyaan ini dilontarkan? Jawabnya selalu ada….ya…..selalu mengada-ada. Bersekutu dia dengan pengusaha, dengan komprador-komprador itu. Dengan para elit itu. Sungguh dia telah bersetubuh dengan para penghianat rakyat. Kelas tertindas.

 

Selalu ada alasan sebagai pembenaran. Itu taktik lama, sudah dilakoni oleh Soeharto, Habibie, Gus Dur dan Mega…. kepentingan elit. Kepentingan orang yang punya Indonesia.

 

Mari kita kembali ke zaman Muhammad. Apa yang yang dia lakukan? Muhammad berusaha memimpin revolusi dengan melakukan Hijrah. Dengan besar harapan akan mendidik rakyatnya untuk melakukan perubahan. Lihatlah di teori politik mana yang sama seperti apa yang dilakukan Muhammad? Atau nabi yang mana yang pernah melakukan apa yang dilakukan Muhammad? Ya benar… Musa dan Harun pernah melakukannya. Juga Isa. Tapi tidak dilakukan Sidarthagautama sang Budha. Tidak dilakukan oleh pejuang lainnya selain oleh garis nabi-nabi keturunan Ibrahim. Yang lainnya bersekutu dengan Aristokrasi, bersekutu dengan para raja-raja.

 

Muhammad hadir membentuk barisan orang-orang yang menjadi kepercayaannya. Ada Ali, Abu Dzar, ada Bilal Bin Rabbah, dan yang terpercaya lainnya. Tapi tidak hanya itu yang dilakukan Muhammad. Muhammad menularkan semangat kepeduliannya kepada bangsa yang di pimpinnya dari golongan Muhajirin maupun Anshor. Bukan hanya karena ajaran Muhammad benar, tapi empati Muhammad pada rakyat sungguh sangat besar. Berada di tengah-tengah massa rakyat.

 

Tidak seperti kondisi Indonesia. Tidak ada seorang pemimpin yang benar-benar ada di massa rakyat. Tidak perlu kita bicara masalah eksekutif. Legeslatif yang merupakan perpanjangan tangan rakyat saja, atau perpanjangan tangan partai politik sama sekali tidak ada yang benar-benar peduli pada rakyat.

 

Mungkin ada di beberapa partai kader yang benar-benar turun ke grassroot. Tapi terkadang masih tetap berselingkuh dengan para penguasa. Keberpihakan yang semu. Sungguh diharamkan….

Mungkin mereka berfikir bahwa penguasa perlu juga di berikan peringatan sebagai nilai dakwah. Tapi terkadang kebablasan. Karena secara historis dan sosiologis bangsa ini memang sudah terbiasa jadi penghianat. Lihatlah film Si Pitung…..

 

Maka dalam menyongsong tahun baru 1429 H ini, kita semestinya harus memperbaiki maenstream kita kembali. Kita harus menentukan posisi kita kembali. Sungguh SBY JK sudah wajib untuk di gulingkan. Tidak ada kata kompromi lagi. Rakyat seharusnya telah kita berikan revolusi kesadaran bahwa nasib kita hanya ditentukan oleh perjuangan kita sendiri. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika bukan mereka sendiri yang merubahnya. Artinya kita ini mahluk yang bebas menentukan masa depan kita. Tidak ada campur tangan mutlak Allah pada masalah nasib. Karena Allah memberi ruang untuk kita melakukan perubahan nasib kita sendiri.

 

Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan …

Rakyat bersatu tumbangkan SBY JK

Selamat tahun baru 1429 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s