Januari 16, 2008

Andai Jakarta Bebas Macet…

Posted in Secangkir Kopi pada 7:34 am oleh airhoejan

 

lbuslaunch2wy.jpg

Beberapa hari ini saya berkesempatan untuk keliling Jakarta. Ada beberapa aktivitas yang saya harus lakukan ke luar kantor. Hal yang sudah sangat jarang saya lakukan setelah sepulang dari Sydney 6 bulan lalu. Luar biasa macetnya. Menggerutu dalam hati menghadapi semua kekacauan lalintas adalah hal yang sia-sia fikirku. Banyak hal yang bisa aku lakukan, baca buku, bersenandung dalam hati, berdzikir, atau hanya sekedar memperhatikan prilaku masyarakat yang bernasib sama denganku yang terjebabak dikemacetan.

 

Untuk menghindari macet dan mencari kenyamanan aku coba untuk bergabung bersama Busway Transjakarta. Tapi ternyata hal itu tidak begitu ampuh. Masih saja di titik-titik tertentu Busway menghadapi kenyataan pahit yang sama. Bahkan hak jalan yang sebenarnya milik Busway, kini dilewati oleh motor beroda dua dan mobil-mobil pribadi lainnya. Katanya sudah menjadi ketetapan polisi lalintas, dimana dalam kondisi padat merayap, kendaraan pribadi dapat melewati dan menggunakan jalur Busway. Alhasil macetnya ‘gak ketulungan’.

 

Busway menurutku merupakan salah satu solusi yang menarik untuk mengatasi kemacetan Jakarta. Tapi hal itu harus didukung oleh beberapa prasyarat lainnya. Antara lain :

 

  1. Kendaraan pribadi harus dikurangi. Ini merupakan solusi yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Yang terkadang menjadi dilema adalah, kendaraan-kendaraan pribadi sepertinya menyalahkan dengan adanya busway Jakarta semakin macet saja. Dan dengan tak tahu malunya mereka berpendapat bahwa Busway merupakan penyebab kemacetan lalintas ibukota. Tanpa mereka berkaca, sebenarnya merekalah yang memiliki kendaraan pribadilah yang membuat macet-nya Jakarta. Bayangkan dengan sombongnya mereka membawa kendaraan pribadi mereka masuk Jakarta dan tanpa penumpang siapapun. Hanya mereka sendiri yang berada di dalam mobil mewah mereka. Jangan bicara masalah macet saja, mereka juga penyumbang kerusakan udara di Jakarta. Namun sayang, pemerintah dalam hal ini Pemda Jakarta tidak tegas untuk membatasi pemakaian kendaraan pribadi ini. Mungkin mereka takut, mereka juga akan kena dampak atas pembatasan tersebut. Ya sudah jelas, terkadang yang menelorkan ide untuk adanya Busway mungkin dia adalah orang yang tidak naik Busway itu sendiri. Atau setidaknya orang-orang Pemda Jakarta harus naik Busway, tidak menjadi bagian yang membuat Jakarta macet.

  2. Armada Busway di perbanyak beserta angkot pengumpannya. Harus diakui bahwa armada Busway masih dirasa kurang, juga kendaraan pengumpan untuk menuju ke jalur Busway. Agar hal ini tidak menjadi citra buruk yang menyatakan bahwa Busway adalah solusi kemacetan Jakarta.

 

Dari point-point di atas, sebenarnya yang menjadi titik tekan adalah point pertama yaitu pengurangan kendaraan pribadi. Seperti yang saya lihati di Sydney. Memang tidak bisa dibandingkan antara kedua kota ini, Sydney dan Jakarta. Karena memang sosiologi dan karakter masyarakatnya berbeda. Apalagi jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Tapi paling tidak ada hal yang bisa kita pelajari dari kota besar dunia itu.

 

Meminjam bahasa Izur Muhtar komidian Project P, Jakarta seperti kue donat. Jika malam datang tengah kota kosong dan padat di pinggirnya. Bayangkan jakarta diwaktu malam. Hanya ada kantor-kantor kosong. Dan para penghuni kantor pada waktu siang telah pulang ke pinggiran Jakarta. Bekasi, Tangerang, Bogor. Mereka datang diwaktu pagi menyerang ibukota untuk mengais rejeki di waktu siang. Wajar jika pagi bahkan subuh mereka bergerak menuju kota impian mereka untuk mengumpulkan Rupiah.

 

Mereka merangsek masuk dengan berbagai cara. Dan penyebab utama kemacetan Jakarta adalah mereka masuk Jakarta dengan kendaraan pribadi mereka. Sewaktu kuliah di Sydney saya tinggal di Suburb. Kota kecil seperti Depok, Bekasi, Tangerang yang merupakan penyangga kota Sydney. Saya bermukim bersama kawan-kawan Indonesia lainnya di Punchbowel dan beberapa saat memang pernah tinggal di Lakemba selatan Sydney.

 

Untuk berangkat kuliah ke City saya mengenakan kereta api. Dan ternyata hal itulah yang memang dilakoni oleh penduduk penyangga kota. Semua mereka masuk ke City dengan menggunakan train. Mereka memarkir mobil-mobil mereka di pelataran stasiun. Jadi mereka menggunkan mobil hanya dari rumah menuju stasiun. Setelah itu mereka menggunakan train menuju tempat mereka bekerja ataupun aktivitas lainnya. Kenapa demikian?

 

  1. Pembatasan kendaraan pribadi mereka sudah berjalan. Karena beban pajak kendaraan pribadi di Sydney cukup tinggi. Walaupun harga mobil murah, namun pajak kepemilikan mobil sangat mahal.

  2. Biaya parkir di tengah kota sangat mahal dan menggunakan tarif perjam. Hal inilah yang membuat warga berfikir berulangkali untuk menggunakan mobil untuk masuk ke tengah kota.

  3. Kesadaran masyarakat yang telah tumbuh untuk mematuhi segala peraturan.

 

Sungguh 3 point di atas sangat tidak dimiliki oleh warga Jakarta. Apalagi point ke 3. Bayangkan saja, segala apapun aturan yang di buat pasti akan mudah dilanggar. Dan penegak hukum juga sepertinya tidak konsisten mengawasi berjalannya aturan, karena mungkin begitu bosennya sering terjadi pelanggaran-pelanggaran terus. Menarik sebenarnya apa yang ditayangkan Metro tv. “Snapshoot”. Tapi hal itu akan menjadi tontonan segar saja, jika tidak timbul rasa malu dari yang menonton. Jika sudah hilang rasa malu pada diri manusia, maka keimanan akan mudah dicabut dari dirinya…. Wallaahualambishowab.

 

Jagakarsa, 16 Januari 2008

Ba’da Subuh 5:19 wib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s