Januari 16, 2008

TUKUL, SOEHARTO, TEMPE, SBY dan Para Penindas

Posted in Senyum pada 7:13 am oleh airhoejan

 

 tukul.jpg

 

Tukul…sosok pelawak yang melejit jadi terkenal dengan polah tingkahnya dalam acara show-nya EMPAT MATA. Tukul dan acara itu sungguh sungguh luar biasa. Menyedot perhatian banyak orang. Bahkan ketika saya sedang belajar di Austarlia, banyak sekali mahasiswa yang ‘keracunan’ acara Tukul ini.

Acara unik meniru OPRAH Show dengan model gaya lawakan khas Tukul. Semua dikemas dengan sangat menarik. Perempuan sebagai hiasan bertambah menariknya acara. Lawakan segar menyerempet seksualitas. Dengan slogan yang sudah sangat membumi di tengah masyarakat “Kembali ke Laptop”.

Saya tidak tertarik untuk membahas masalah Tukul lebih panjang. Saya hanya ingin membahas sedikit tentang acara Tukul ini. Tanggal 08 Januari kemarin, tanpa sengaja saya melihat acara Empat Mata yang melaporkan secara langsung bagaimana kondisi kesehatan mantan presiden Soeharto. Saya juga tidak mau membahas masalah kesehatan Soeharto terlalu dalam, karena pertama saya tidak suka dengan dia. Kedua saya bukan mahasiswa kedokteran yang faham masalah Soeharto. Saya Cuma ingin mengomentari perkataan Tukul di akhir liputan. Dia mengatakan bahwa WAJIB hukumnya bagi kita untuk mendoakan Soeharto.

Wow…. tungguh dulu. Kata wajib ini perlu digasi bawahi. Saya fikir ini tidak tepat untuk seorang yang bernama Soeharto. Tadi di Metro TV pun demikian. Banyak sekali ucapan doa yang disampaikan pemirsa dari seluruh Indonesia untuk Soeharto.

Soeharto adalah orang yang harus bertanggungjawab atas kerusakan Indonesia. Ini tidak bisa dipungkiri. Memang benar bahwa kroni Soeharto juga berperan banyak. Tapi Soeharto sebagai pemimpin Bangsa, harusnya mempunyai sikap atas apa yang dia pimpin. Apalagi dia sendiri yang begitu bangganya dengan demokrasi yang telah di ciptakannya sendiri PANCASILA.

Bukan hal yang tepat untuk mengatakan wajib mendoakan Soeharto. Karena kita pun ternyata seharusnya lebih harus banyak mendoakan diri kita sendiri, keluarga, dan orang-orang tertindas lainnya. Bukan mendoakan kelas penindas. Lihatlah Allah berpesan kepada kita :

Sudah menjadi kehendak Allah bahwa Allah akan melimpahkan kurnia Allah atas mereka yang selama ini menderita dan tertindas di buka bumi dan akan Allah tetapkan mereka menjadi pemimpin dan perwaris bumi. (QS 28 :5)

Kita diminta Allah untuk berpihak kepada kaum tertindas, kelas tertindas. Yang benar-benar mereka termiskinkan oleh keadaan. Mereka termiskinkan oleh struktur. Mereka termiskinkan oleh negara. Karena itulah tugas kita.

Bayangkan harga kedelai melambung naik. Makan apa lagi warga kita. Sekarang semua sudah kembali ke tahu dan tempe. Jika demikian apa lagi yang bisa diperbuat, apa lagi yang bisa kita makan? Sungguh luar biasa Indonesia. Sebenarnya apa yang SBY urus? Sebenarnya SBY berpihak kemana? Kalau Hak Cipta dia urusi, tapi menyangkut perut rakyat dia tidak urusi. Luar biasa memang….

Seperti tulisan saya tahun lalu… ibu Ani Yudhoyono menunggu rombongan orang utan yang di tangkarkan di Vietnam untuk dilestarikan di Indonesia. Ani Yudhoyono menunggu di bandara Soekarno Hatta. Sayang, Ani Yudhoyono tidak pernah menunggu kedatangan TKI di bandara Internasional itu. Atau SBY menunggu para deportan Malaysia di Tanjung Priok. Luar biasa, mereka ternyata titipan para kaum penindas. Maaf, memang begitu kenyataannya. Kita harus berpihak jelas. Jika tidak terindas berarti kita adalah Penindas……

Jakarta Selatan, 1 Muharam 1429 H

2 Komentar »

  1. rijalabdullah said,

    Saya kira pendapat anda benar, tapi saya, dalam sudut pandang lain, juga sependapat dengan Tukul, soalnya begini, mungkin doa ini adalah meminta kepada Nya semoga Pak Harto itu sehat, lalu kemudian dapat diadili. Atau setidaknya kita menghayati ajaran Islam bahwa kalau seseorang muslim dalam sakaratul maut, semestinya kita memdoakannya semoga dimudahkan jalannya menghadap Allah SWT. Disegi lain kita juga tidak boleh skeptis terhadap beliau, karena pada intinya Suharto tidak akan seperti Suharto tersebut kalau kita (anak bangsa ini) secara kolektif tidak membuatnya menjadi demikian. Kenapa kita selalu menjadi orang yang Yesmen ketika dia berkuasa? Saya mungkin sependapat dengan Pak Prof. Amin Rais, bahwa kita ini telah berdosa secara kolektif karena telah membuat beliau menjadi penguasa seperti apa adanya itu. Lihat saja bahwa apa saja gagasan yang beliau kemukakan tidak ada seorangpun yang menyanggahnya (1000 anggota DPR/MPR, TNI, POLRI, Pemuka Agama, dll). Salam.

  2. airhoejan said,

    wah.soal mendoakan sebagai muslim mungkin iya. tapi sejak lahir saya tidak pernah menjadi orang yang YESMEN seperti dugaan anda. Soeharto adalah musuh saya dari lahir. Karena bapak dan keluarga saya adalah korban dia. Dan saya adalah orang yang berdarah darah 98 menjatuhkan Soeharto. Walaupun saya sadar Rezim dan antek-anteknya masih kuat saat ini. Dan tentunya saat ini sampai saya menutup mata saya akan perjuangkan keadilan di negeri ini. Trims sudah berkomentar….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s