Januari 18, 2008

Cina

Posted in Sejarah pada 8:39 am oleh airhoejan

 

 

 

agnes_monica_12.jpg
Jusuf Kalla kemarin (17/1) di datangi oleh Asosiasi Pasar dan Penyuplai, guna membicarakan hal dimana baiknya ada perda yang mengatur zona pasar tradisional dan pasar moderen. Di satu sisi saya melihat hal ini positif. Artinya hal yang saya fikirkan selama ini ternyata juga difikirkan oleh pihak eksekutif. Namun disisi lain saya masih pesimis dengan rencana tersebut. Ada beberapa hal yang saya khawatirkan :

Pertama : Rencana pembuatan perda pembagian zona itu sebenarnya hadir dari siapa. Saya khawatir ini merupakan agenda tersembunyi dari para pengusaha pasar modern. Maaf jika saya harus waspada. Karena dalam pertemuan tersebut saya tidak melihat adanya perwakian dari para pedagang kecil. Apakah mungkin ada yang bisa mewakili.

Kedua : Pembuatan perda bukanlah hal gampang. Semudah yang kita bayangkan. Harus ada penelitian, diskusi panjang untuk membedah masalah. Apalagi saya yakin sosio geografis permasalahan tiap daerah berbeda-beda. Hal ini berguna untuk merumuskan naskah akademik dari sebuah perda. Lalu siapa yang dapat mewakili pedagang pasar tradisional dalam merumuskan masalah ini. Tentunya jika hal ini terus digulirkan, saya khawatir perda yang akan lahir adalah perda yang berisikan bahasa-bahasa kooptasi dari pedagang pasar modern. Sangat sulit untuk bisa berbuat adil.

Maaf jika bahasa saya sangat primordial. Tapi itu yang saya lihat di Indonesia. Cobalah kita melihat di lapangan perdagangan apapun di Indonesia semua dikuasai oleh etnik Cina. Cina sangat berperan dalam perdagangan di Indonesia. Bahkan perusahaan-perusahaan besar menguasai atsmotfir pasar. Jika kita teliti lagi lebih dalam, yang memiliki pabrik, perusahaan besar yang bukan bidang retail pun Cina menguasai.

Cina yang saya maksudkan di sini adalah warga keturunan. Dan saya tidak membongkar Cina di negerinya sana. Saya tidak bicara masalah Cina sebagai Komunis atau Cina imigran di negara lain, saya bicara masalah Cina yang ada di Indonesia.

Kalau kita lihat bagaimana ketika Cina datang ke Indonesia dan mereka mulai menjadi pedagang pada zaman Belanda. Seperti yang kita lihatdi film-film lama seperti Si Pitung, memang sebenarnya begitulah gambaran Cina di Indonesia. Mereka dekat dengan penguasa dan mereka memainkan tiga hal yang dibutuhkan oleh manusia. Hal ini agar mereka dapat dengan mulus menguasai pasar. Apa ketiga hal tersebut?

Tiga hal tersebut adalah : Uang, Perhiasan dan Wanita. Tiga jimat inilah yang menguatkan mereka dalam bidang usaha. Mereka monyogok ketiga hal ini kepada para pejabat sekaligus penghianat bangsa. Dan hal itu berlangsung sampai sekarang. Info ini saya dapatkan dari teman papa saya yang ada di Pertamina Pusat. Dia katakan kalau pengusaha minyak itu orang Cina, maka dia tawaran tiga hal di atas. Uang, Perhiasan dan wanita. Tiga hal yang menjadi kelemahan manusia. Dimana hasrat manusia begitu condong terhadap hal-hal itu.

Itu juga yang dialami oleh Soeharto, ketika dia harus berhadapan dengan Liem Si Liong, berhadapan dengan Bob Hasan atau siapapun pengusaha-pengusaha cina lainnya. Hingga jika kita mau jujur yang punya Indonesia bukan orang Indonesia, tapi orang Cina. Kalau kita lihat di beberapa propensi, seperti Bengkulu, Palembang, Manado, Jambi, atau Jakarta sendiri. Orang-orang Cina banyak hidup di pinggir pantai. Kenapa begitu? Apakah karena mereka senang dengan udara laut? Bukan begitu. Itu karena mereka penakut. Dahulu kala Belanda membangun benteng di areal pantai. Dan pedagang-pedagang Cina mereka hidup mendekat pada Belanda agar mereka mendapatkan perlindungan. Hal inilah yang membuat mereka eksis.

Sampai sekarang Cina masihi menguasai Indonesia. Lihatlah acara Cheng Sin di Indonesiar. Yang melombakan lagu-lagu Cina layaknya Indonesian Idol atau AFI. Kenapa harus budaya luar sih? Kenapa tidak lomba lagu daerah? Kenapa harus Cina? Inilah bukti orang Cina mengkooptasi Indonesia.

Kita selaku bangsa seharusnya malu dengan kondisi ini. Malu dengan kondisi dimana ekonomi kita dikuasai oleh orang-orang keturunan. Bagaimana untuk melawan mereka? Bukan dengan meminta mereka keluar. Tapi dengan usaha yang gigih. Dengan strategi jitu. Membangun koperasi dan bersatu padu melawan kapitalisme warga keturunan itu. Sudah bukan zamannya lagi kita bergantung kepada sebuah kelompok atau partai tertentu. Tidak perlu kita menggantungkan harapan kepada partai yang menggembar gemborkan bahwa mereka partai wong cilik atapi isinya para elit. Kita harus berjuang sendiri bergerak sendiri.

Buat JK, walaupun anda pedagang besar tolong fikirkan dan adillah pada pedangan kecil. Yang miskin sudah terdesak dan mereka tidak menemui jalan keluar yang tepat. Bukan zamannya lagi mereka digusur untuk mendirikan GIANT, CAREFURE, HYPERMART. Please JK fikrikan itu…….

 

Walllahualam bishowab…

 

Jagakarsa, 9 Muharram 1429 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s